Mahasiswi UNRI Korban Pelecehan

  • Share

Mahasiswi UNRI Korban Pelecehan – Seorang mahasiswi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau (UNRI) diduga menjadi korban pelecehan seksual oleh dekan fakultasnya saat melakukan bimbingan proposal. Menanggapi tudingan pelecehan itu, sang Dekan, SH disebut telah mengutus perantara untuk menemui keluarga korban.

Lewat utusan perantara itu, SH mengaku mencium korban seperti mencium anaknya saja.

“Beliau berdalil dan mengatakan bahwa ia mencium saya hanya sebagai anak,” ungkap mahasiswi tersebut dalam video yang diunggah akun Instagram @mahasiswa_universitasriau, Kamis (4/11).

Namun, dalih yang dilontarkan itu tak bisa diterima keluarga korban. Mereka menyanggah, dan memarahi utusan tersebut. Keluarga korban lantas mempersoalkan bahwa ketika mencoba mencium korban, SH meminta bibir korban.

“Kalau memang (mencium kepada) anak, kenapa harus minta bibir? Kenapa harus berkata mana bibir, mana bibir? Apakah perlakuan orang tua kepada anak harus seperti itu?” kata mahasiswi tersebut menirukan pernyataan keluarganya.

Meski mahasiswi tersebut sudah mengaku sangat terhina karena tindak pelecehan seksual, SH masih saja tidak jujur dan melakukan pembelaan diri menyanggah.

Oleh karena itu korban mengaku dia dan keluarganya tak terima dan tak memaafkan perlakuan SH.Korban juga berharap dirinya mendapatkan keadilan dan SH mendapatkan hukuman yang pantas.

“Saya harap saya mendapatkan keadilan dan pelaku dihukum seberat-beratnya, mendapatkan hukuman yang pantas atas perlakuan keji yang dia berikan terhadap saya,” kata korban sembari menangis.

Tidak hanya itu, korban juga mengaku dihubungi berkali-kali oleh pelaku menggunakan nomor telepon baru. Menurut korban, tindakan itu pelaku lakukan beberapa waktu setelah ia mengadu kepada salah satu dosen dan Ketua Jurusannya. Namun, dosen tersebut justru menyarankan agar korban menghubungi atau bertemu langsung dengan pelaku.

“Setelah itu Bapak SH mencoba menghubungi saya berkali-kali dengan nomor baru yang tidak saya ketahui,” kata korban.

Merespons tindakan dosen yang juga dekan di fakultasnya itu, mahasiswi tersebut mengaku tidak mau mengangkat telfon. Ia merasa sangat diteror. Ia juga mengaku mengalami ketakutan luar biasa saat membayangkan wajah pelaku. Namun, dosen yang ia mintai bantuan justru menekannya agar mengangkat telfon dari pelaku.

“Beliau sempat mengirim pesan kepada saya dan mengatakan, ‘kok telepon bapak di-reject?’ Yang membuat saya sangat diteror, merasa sangat ketakutan akan tindakan-tindakan yang dilakukan Bapak SH,” ujarnya.

  • Share