Tak Sadar Turis Bali Pegang Gurita Paling Beracun

siaran24.com – Berita terbaru kali ini mengenai sebuah video yang belakangan viral di TikTok menunjukkan seorang turis di Bali memegang salah satu gurita paling berbahaya di dunia menggunakan tangan kosong. Turis itu, Kaylin Philips, menunggah pengalamannya melalui akun TikTok @kaylinmarie21 pada pekan lalu. Ia terlihat sedang memegang seekor gurita berukuran sekitar 15 cm di sekitar pantai Uluwatu, Bali.

Gurita yang dia pegang adalah jenis cincin biru.

“Pergi ke Bali dan tanpa sadar memegang salah satu hewan paling berbahaya di dunia,” tulis dia pada unggahannya.

Siaran 24

Pada tayangan video tersebut ia bercerita mencari tahu jenis gurita yang dipegang. Dari hasil penelusuran di mesin pencari ia baru saja melakukan kontak dengan gurita sangat berbisa.

Dalam tangkapan layar kedua yang diunggahnya, digambarkan hewan itu memiliki kandungan racun yang cukup untuk membunuh 26 manusia dewasa dalam waktu beberapa menit, serta memiliki gigitan kecil yang seringkali tidak menimbulkan rasa sakit.

Dengan cara itu korban seringkali tidak menyadari bahwa mereka telah digigit, hingga akhirnya racun itu masuk dan perlahan melumpuhkan sistem pernafasan, seperti laporan Independent.

Konten tersebut kini masih bisa dilihat di akun TikTok miliknya. Hingga Senin (29/3) pagi cuplikan video itu telah diputar lebih dari 10 juta pengguna dengan lebih dari 21 ribu komentar.

Baca Juga :Fitur Baru Google Assistant Bisa Simpan dan Temukan Segalanya

Dikutip Oceana, terdapat empat spesies gurita cincin biru yang hidup di Pasifik barat dan samudra Hindia. Dalam situs tersebut menyatakan gurita cincin biru merupakan salah satu gurita paling berbisa di dunia dan saat ini belum ada obat yang dapat mengatasi gigitannya.

Racun dari gurita cincin biru disebut tetrodotoxin, atau TTX, dan dapat melumpuhkan manusia dalam hitungan menit. Kelumpuhan akan menghilangkan oksigen dari tubuh dan menyebabkan kematian.

Pada unggahan berikutnya pengguna mengaku bahwa video itu diambil pada tiga tahun lalu, saat pergi ke Bali, untuk belajar produksi film dokumenter tentang kesejahteraan hewan.

Sumber